Di tengah isu perombakan kabinet dan koalisi, Demokrat terus bekomunikasi dengan PDI Perjuangan. Ketua Tim Sukses SBY-Boediono dalam Pilpres 2009, Hatta Rajasa, kembali mendatangi Ketua Dewan Pertimbangan Pusat DPP PDI Perjuangan, Taufik Kiemas. Belum jelas isi pembicaaran antara Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) dengan Ketua MPR tersebut. Namun diduga hal tersebut berkaitan dengan rencana SBY untuk merombak koalisi.
Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network, Ardian Sofa, menilai langkah SBY sangat keliru apabila merombak struktur koalisi dan kabinet pasca pengusulan hak angket pajak yang berujung di paripurna DPR. Dalam angket pajak sikap PDI Perjuangan tidak berbeda dengan Golkar dan PKS. PDI Perjuangan termasuk partai yang menggebu-gebu mengusulkan angket pajak, dan bertentangan dengan Demokrat yang menolak angket pajak.
"Aneh, kalau SBY mengeluarkan Golkar dan PKS karena angket pajak. Sama anehnya, bila karena angket pajak SBY mengajak PDI Perjuangan," kata Ardian sofa kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Jumat, 4/3).
Menurut Sofa, langkah politik yang tepat dilakukan SBY adalah melakukan re-negoisasi dengan Golkar dan PKS. Ongkos politik yang harus dibayar SBY lebih mahal apabila mengajak PDI Perjuangan dan Gerindra bergabung sementara di sisi lain melepas Golkar dan PKS. [yan]




